Rabu, 02 Desember 2020

Menikmati Patah Hati



Seiring bertambahnya jumlah populasi manusia di dunia, maka bertambah pula jumlah interaksi antar umat manusia, termasuk juga interaksi antara dua manusia yang berbeda jenis kelamin yang dibumbui perasaan yang 'disebut' cinta.

Keberadaan hubungan antara lawan jenis dalam bingkai asmara tentu juga menimbulkan resiko-resiko, salah satu resiko tersebut adalah patah hati. Bisa jadi hampir semua manusia di dunia pernah mengalami patah hati, kalaupun ada yang bilang tidak pernah merasa patah hati, ya mungkin karena tidak terasa padahal sebenarnya kejadian.

Banyak orang yang patah hati gulung koming melawan sakit hatinya hingga menghabiskan banyak energi yang terbuang sia-sia. dalam kasus-kasus yang parah, patah hati bisa menimbulkan pergerseran kewarasan atau gangguan kejiwaan, beberapa malah sampai nekat menghilangkan nyawa diri sendiri.

Banyak yang bilang, "patah hati itu harus disikapi positif dan menjadi bahan bakar untuk menjadi pribadi yang lebih baik". Ya tentu penyikapan seperti itu sangat bagus, namun apakah semua orang bisa melakukannya, jawabannya tidak. Jika memang patah hati tidak bisa disikapi secara positif, maka bagi orang yang tidak bisa ya patah hati dinikmati saja. Loh bagaimanan caranya menikmati patah hati?.

Patah hati rasanya pasti yang ngilu-ngilu gitu, di awal. Tapi semua perlu paham bahwa semua perasaan yang ada dalam diri manusia itu tidak kekal. Coba ingat rasanya sampean dulu ketika dibelikan sepatu waktu masih kecil, seneng kan?, tapi apakah hari ini juga masih merasakan rasa seneng itu, tentu jawabannya tidak.

Patah hati juga merupakan sebuah objek rasa, sama seperti rasa senang ketika dibelikan sepatu. Pada saatnya nanti perasaan patah hati bakal hilang, tidak perlu dipaksakan, dijalani saja, karena semuanya tidak kekal, pasti bakal berlalu, dan tentu butuh waktu.

Pada prosesnya tentu ada hal-hal yang bikin semriwing di hati, misalnya pas tau kalau si dia sudah punya pasangan baru. Ya sekali lagi itu tidak akan kekal pasti bakal berlalu. Dengan atau tanpa dia yang menyakitimu, hidup tetaplah hidup yang bakal terus berjalan, dan jangan sampai kita semua ketinggalan.

Senin, 09 November 2020

Berkebun untuk Bahagia


Mungkin banyak yang mencari kebahagian di jalan yang salah, begitu pula sebaliknya banyak juga yang mengatakan bahwa kebahagiaan itu harus diciptakan sendiri. Atas dasar itu muncul juga pertanyaan baru, bagaimana caranya untuk berbahagia. seolah-olah kebahagiaan itu bersifat utopis atau sesuatu yang sulit dicapai.

Bisa jadi bahagia memang banyak caranya, tapi satu yang sudah banyak diamini oleh orang banyak adalah : berkebun. Iya, itu bukan salah tulis, memang berkebun itu bikin bahagia. Berkebun di sini bukan tentang lahan pertanian yang luas loh ya, yang sederhana saja, cukup berkebun di halaman rumah saja.

Lalu bagaimana hubungannya berkebun bisa bikin bahagia?, ya sesederhana bahwa kita bisa makan hasil jerih payah sendiri. Berkebun dengan merawat tanaman secara bertahap, dari fase ke fase selanjutnya, memperhatikan setiap perubahan jumlah daun, perubahan tinggi tanaman, munculnya bunga, bunga rontok kemudian muncul buah, di akhir bisa memanen dan kemudian mengolahnya menjadi makanan itu merupakan hal yang menyenangkan. Setiap gigitan yang dirasakan maka yang terbayang  adalah rasa puas atas jerih payah sendiri, dan itu membahagiakan.

Boleh dicoba, tidak perlu banyak dan muluk-muluk, satu atau dua pot/polibag terlebih dahulu sudah cukup. Kemudian tanam tanaman yang mudah dirawat, misalnya cabai, kangkung, tomat dan sejenisnya.


Terbaru

Menikmati Patah Hati

Seiring bertambahnya jumlah populasi manusia di dunia, maka bertambah pula jumlah interaksi antar umat manusia, termasuk juga interaksi anta...